DaerahJawa Barat

Sambil Jongkok, Anggota Dewan ini Sindir Pemkab : “Halaman Kantor Bupati saja Masih Kebanjiran”

KARAWANG, JabarNet.com – Hujan deras kembali mengguyur Kota Pangkal Perjuangan, Senin (1/3/2021). Diduga akibat tersumbatnya drainase di sejumlah titik jalan protokol oleh tumpukan sampah, halaman kantor Bupati Karawang pun terpantau ikut terendam air alias kebanjiran.

Sontak, halaman kantor Bupati Karawang yang berdampingan dengan gedung wakil rakyat tersebut mendapat sorotan dari sejumlah kalangan, termasuk para anggota dewan sendiri.

Anggota DPRD Karawang, H. Toto Suripto yang melihat kondisi genangan air di halaman kantor bupati ikut melemparkan sindiran kepada Pemkab Karawang. Kata Toto, bagaimana ceritanya pemkab akan menyelesaikan persoalan banjir di Karawang, jika halaman kantor bupati dan mesjid pemda sendiri masih digenangi air setiap kali hujan deras turun.

Sambil jongkok di pinggiran genangan air, Anggota Komisi IV DPRD Karawang ini meminta agar persoalan banjir di halaman kantor bupati menjadi catatan khusus bagi dinas terkait. Bahkan ditegaskan Toto, pemkab harus memiliki ‘rasa malu’ saat melihat kondisi halaman kantor bupati kebanjiran.

“Coba lihat sendiri, gimana kita mau bicara mengatasi banjir Karawang, kalau halaman kantor bupati juga seperti ini (kebanjiran),” ujar H. Toto Suripto, sambil menunjuk genangan air di halaman kantor bupati.

Puskesmas Karawang Kota

Dikonfirmasi lebih lanjut, anggota Fraksi PDI Perjuangan ini juga menuturkan, jika sejumlah kantor pelayanan masyarakat seperti kantor Puskesmas Karawang Kota juga tak luput digenangi air saat hujan deras turun. Akibatnya, kondisi halaman puskesmas menjadi becek saat hujan sudah reda. Kondisi tersebut jelas membuat tidak nyaman masyarakat yang hendak berkunjung ke puskesmas.

“Saya pantau di Puskesmas Karawang Kota juga pada becek. Kondisi ini membuat tidak nyaman terhadap pelayanan masyarakat,” timpalnya.

Yang harus menjadi catatan khusus pemkab lainnya, sambung Toto, pasca hujan reda kondisi infrastruktur jalan Karawang mudah rusak (berlubang). Hal ini diakibatkan tidak pernah dilakukan pengerasan terlebih dahulu sebelum jalan dibangun.

Apalagi untuk infrastruktur jalan pertanian yang kontur tanahnya labil. Berbeda halnya saat zaman mantan Bupati Karawang, Dadang S Muchtar (Dasim), yaitu dimana setiap pembangunan jalan selalu dilakukan pengerasan terlebih dahulu.

“Setelah hujan turun kebanyakan jalan pasti pada berlubang. Beda dengan zamannya Pak Dasim dulu. Seharusnya satu tahun anggaran dilakukan pengerasan terlebih dahulu. Karena kebanyakan kontur tanah di jalan kita itu labil. Apalagi untuk jalan-jalan pertanian,” tandas Toto. (Adk)

Shares:

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *