DaerahJawa Barat

Sistem ‘PJJ’ Mulai Banyak Disorot, Ormas LMP Karawang Anggap Metode Itu Tidak Efektif


Karawang, JabarNet.com – Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia pada umumnya, berdampak terhadap duni pendidikan. Agar aktifitas transper ilmu tetap berjalan, pemerintah telah membuat sistem pembelajaran dengan metode daring, yang diberi nama Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ.

Kendati sistem PJJ dibuat agar proses belajar tetap berjalan, dengan tidak melibatkan kontak langsung dalam prosesnya, tidak serta merta dapat dirasakan manfaatnya secara maksimal oleh semua pesrta didik.

Di Kabupaten Karawang, sistem PJJ justru menuai sorotan dari sejumlah masyarakat, seperti di sampaikan tokoh Masyarakat Karawang Asep Agustian, yang menilai penerapan PJJ hanya menciptakan masalah baru yang cukup komplek.

Bukan saja Asep Agustian, Ketua Organisasi Masyarakat (Ormas) Laskar Merah Putih (LMP) Marcab Karawang, Awandi Siroj, juga menilai penerapan sistem PJJ di Karawang tidak efektif. Tak hanya itu ia juga mempunyai catatan penting mengenai sistem PJJ yang perlu di evaluasi.(Baca Juga: Sistem PJJ Timbulkan Masalah Komplek, Begini Saran Askun Untuk Dunia Pendidikan)

“Kami LMP Marcab Karawang mendorong ada perbaikan dalam PJJ fase kedua agar anak-anak dapat menjalani PJJ dengan kondisi bahagia. Karena 79,9 persen siswa menyatakan tidak senang belajar dari rumah karena 76,8 persen gurunya tidak melakukan interaksi selama PJJ, kecuali memberikan tugas-tugas saja,” kata Awandi Siroj, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (06/08/20).

Menurut Abah Wandi, sapaan akrab Awandi Siroj, sistem PJJ pada fase 1 dianggap tidak berjalan efektif, terjadi bias kelas sosial ekonomi, bias perkotaan dan pedesaan serta bias Jawa dan luar jawa. Persoalan jaringan dan ketidak mampuan keluarga peserta didik membeli kuota internet menjadi impack diterapkannya sistem PJJ.

“Oleh karena itu, Kami merekomendasi agar pemerintah mengratiskan internet untuk PJJ fase 2 selama 6 bulan kedepan,” jelasnya.

Atas hal itu Abah Wandi mendorong adanya perbaikan dalam penerapan sistem PJJ fase kedua agar anak-anak dapat menjalani pembelajaran dengan kondisi bahagia.

“Jika PJJ diperpanjang, namun tanpa perbaikan dan dukungan internet negara, maka hal ini akan berpotensi meningkatkan stress pada anak yang berdampak pada masalah psikologi anak-anak,” tandasnya. (red)

Shares:

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *